[MY TRIP] Makam Papan Tinggi

Makam Papan Tinggi
Liburan? Dulu waktu liburan hanya gue habiskan dirumah saja.
Tetapi entah mengapa mulai tahun ini, gue kepingin pergi ketempat-tempat wisata.
Makam Papan Tinggi yang berada di desa Pananggahan, Barus adalah tempat kedua yang gue kunjungi ketika liburan di kampung halaman. Rencananya kami mengunjungi makam papan tinggi pada hari kedua sejak berada dikampung. Namun karena berbagai pertimbangan ini itu, jadinya kami mengunjunginya pada hari ketiga.

But, mengapa harus makam papan tinggi? Gue memilih tempat ini karena tertarik dengan tulisan di buku-buku sejarah serta tayangan di televisi yang menanyangkan tempat ini. Dari rumah, kami (gue, ibu, dan dua orang adik serta 1 ito) pun diantar oleh ayah dan amangboru menggunakan dua sepeda motor, mengapa tidak menggunakan mobil pribadi? Alasannya karena mobilnya masih dipajang ditoko. Satu sepeda motor pun akhirnya dinaiki oleh tiga orang, yups sensasinya pun terasa beda. Kalau mau tau, silahkan dicoba sendiri.

Nah, kami diantar sampai ke pinggir jalan arah makam papan tinggi. Ayah dan amangboru langsung balek ke rumah, alasannya? Entahlah. Tinggal kami berlima yang akan mengunjungi makam papan tinggi ini. Mau masuk harus membayar semacam tiket, yakni Rp 2.000,-/orang, kan ada lima orang, lah satu lagi? Adik gue yang satu masih kecil, jadi tidak masuk hitungan, syukur lebih murah. Wkwkwks.

Sebelum naik, ada beberapa mitos ataupun semacam peraturan yang berlaku ditempat ini. Diantaranya pertama, katanya tidak boleh menghitung jumlah tangganya. Kedua, tidak boleh mengambil apapun dari makam papan tinggi tersebut. Ketiga, panjang makam ini selalu berubah jika diukur. Dan mitos ataupun semacam peraturan lainnya, karena ini adalah makamnya pemuka agama, jadi kami nurut saja.

Makam Papan Tinggi
Untuk mencapai makam papan tinggi, kami diharuskan menaiki ratusan anak tangga. Tangga demi tangga ku naiki dengan semangat tetapi tidak dengan adik gue yang perempuan, katanya lututnya sakit. Jadi sepanjang penaikan sering berhenti sejenak.

Panorama Makam Papan Tinggi
Baru naik beberapa ratus tangga, sudah disuguhi pemandangan Barus yang masih alami tanpa pengawet. Hijaunya pohon dan hamparan sawah terlihat dari sini. Angin yang berhembus pelan seakan menyemangati dan memberi tanda bahwa diatas akan lebih indah lagi pemandangannya.

Di sepanjang penaikan kami berjumpa dengan orang-orang yang berziarah ke makam ini, baik yang mau turun dan yang mau naik, kebanyakan muslim meningat ini adalah makam pemuka agama islam.
Naik, naik dan terus naik akhirnya sampai ke makamnya walaupun disepanjang penaikan adik gue masih sering berhenti.

Pintu masuk Makam Papan Tinggi
Sampai di pintu makam, kami disuruh membuka alas kaki, tetapi kami tidak langsung masuk, kami melihat keadaan dulu. Kami lihat banyak orang muslim yang membaca alquran sambil berzikir, kami pun bingung. Gue nanya ke ibu "Mak kita macam mana? Kan gak tau kita baca alquran". Mama pun berkata karena sama-sama baru pertama kali kesini "Udah, berdoa dalam hati saja".

Pintu masuk Makam Papan Tinggi
Kami pun masuk dan hanya melihat-lihat dari pinggir makam karena segan. Ibu gue berbaur dengan beberapa pemuda dan bertanya tentang makam ini. Gue dan adik gue yang perempuan menikmati pemandangan sedangkan ito dan adik gue yang kecik tidak mau masuk dan memilih duduk dipintu makam. Jujur, gue kagum melihat panjang makam yang tidak biasa ditambah lagi pemandangan yang begitu indah.

Kenangan Makam Papan Tinggi
Melihat ada orang yang berfoto dilokasi makam, gue dan adik gue pun memberanikan diri mengabadikan momen tersebut tanpa menggangu pengunjung lainnya. Namun kami berdua segan untuk melangkah lebih dekat lagi. Ini adalah beberapa momen tersebut.
Kenangan Makam Papan Tinggi
Kenangan Makam Papan Tinggi


Kenangan Makam Papan Tinggi

Puas telah melihat langsung makam papan tinggi kami pun pulang. Gue pun bertanya kepada ibu tentang hal yang mereka bicarakan tadi dengan beberapa pemuda tadi. Mungkin singkatnya dapat dituliskan begini:
1. Barus ini dulu katanya lautan, dan makam ini adalah daratannya serta pemuka agama yang dikuburkan disini memang meninggal disini.
2. Katanya kadang-kadang ada orang yang datang kesini membawa meteran hendak mengukur panjang makam ini, namun panjang yang didapat selalu berubah.

Beruntung kami berangkatnya pagi, jadi sewaktu melakukan penaikan matahari tidak begitu panas.
Sesampainya dibawah, masih ada saja orang-orang yang akan naik menuju makam. Rasa ingin tau pun terpuaskan. Yuhuuu!

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "[MY TRIP] Makam Papan Tinggi"

Post a Comment